Tuesday, September 20, 2011

Di Balik Rok Mini (Dimata Lelaki)

Soal rok mini ini memang menggelitik. Saya sendiri di dalam dilema yang besar. Alasannya, pertama karena saya laki-laki. Kedua, karena saya belum pernah memakai rok mini. Sebagai orang berpendidikan, saya khawatir perspektif saya terhadap rok mini ini menjadi sangat subyektif, dipenuh asumsi, dan ngawur.

Tapi sebenarnya saya selalu ingin mengajukan pertanyaan kepada setiap pengguna rok mini atau celana super pendek di area publik demi mendapat sudut pandang yang obyektif dari si pemakai agar saya tidak salah sangka:

1. "Mbak-mbak, boleh tau apakah dengan rok mini yang mbak pakai itu, saya atau kami boleh menikmati paha mbak?"
2. "Kalau boleh, apakah mbak memang sengaja agar kami melihatnya? atau malah risih kalau kami melihatnya?"
3. "Atau tolong jelaskan kepada kami, bagaimana seharusnya kami boleh menikmati paha mbaknya biar mbak merasa nyaman dan kita bisa sama-sama menikmati, agar saya merasa aman dalam menikmati, dan mbaknya nikmat juga dilihati?"


Pertanyaan ini sebenarnya penting untuk ditanyakan sebagai dasar ilmiah untuk mengambil kesimpulan, tapi belum kesampaian saya tanyakan sampai saat ini. Malu nanyanya. Dan saya memilih untuk menikmati rok mini tersebut dengan diam-diam, dengan "etika" yang saya karang sendiri agar tidak berdampak sosial yang buruk.

Ada yang bilang ini soal iman. Kalau iman kuat, rok mini lewat. Saya kira setiap orang beriman yang jujur, kalau ditanya pasti menjawab akan timbul pikiran bukan-bukan ketika menjumpai perempuan muda berpaha indah memakai rok mini atau celana pendek sekali di tempat umum.

Tidak usah jauh-jauh, saya sendiri akan mengaku beriman, sholat tidak pernah lewat, kadang-kadang juga ngaji, tapi rok mini is rok mini, daya tariknya sungguh sering melewati daya tangkal iman. Kalau ada yang bilang "Pikiran situ saja yang jorok", duh, ingin sekali saya jawab "Saya sudah susah payah membersihkan pikiran dari yang nggak-nggak, tapi situ lewat sambil menjorok-jorokkan paha .... memaksa untuk dilihat".

Soal hak, semua memang punya hak masing-masing. Selama masih berada di tempatnya, hak menjadi sesuatu yang aman bagi dirinya maupun orang lain.

Contohnya merokok. Saya yakin itu adalah hak. Tidak seorangpun kecuali keluarga dan orang-orang yang bergantung hidupnya pada perokok boleh melarang orang untuk merokok. Tetapi ketika merokok di tempat umum, hak itu jadi tidak aman untuk orang lain. "Tolong ya mas, merokoknya di ruang merokok, atau menggunakan helm full face saja biar asapnya tidak terhirup oleh saya". Gimana kalau perokok menjawab, "Ya situ saja jangan hirup asap saya kalau memang tidak suka bau asap". Kira-kira Anda mau langsung mengajak adu hantam tidak?

Mamainkan musik adalah hak. Tetapi ketika bertetangga, genjrang-genjreng di jam dua pagi di depan rumah orang, kira-kira akan membuat tidur orang terganggu tidak? Gimana kalau ketika ditegur si penggitar menjawab "Tolong ya Bu, kalau memang tidak suka dengan suara gitar saya, ibu jangan dengerin suaranya, gitar-gitar saya kok ibu yang repot". Kira-kira si ibu akan melempar sandal atau tidak? Kalau bermainnya di dalam kamarnya sendiri, di studio musik kedap suara, saya kira volume sebesar apapun tidak akan jadi masalah. Minimal tidak jadi masalah untuk orang lain.

Sama jadinya dengan rok mini dan hot pant. Di rumah, rok mini akan menjadi sangat asik. Aman, dan nyaman buat semuanya. Apalagi di kamar, tidak pakai rok pun akan semakin menambah suasana jadi lebih sesuatu banget Dan, semua orang akan merasa happy dan dijamin aman.

Tapi di boncengan sepeda motor, di busway, di jalanan ... duuuh biyung, please mbak, bu, kalau sekadar saya yang lihat dijamin akan aman. Karena nafsu dan pikiran saya akan saya manage sedemikian rupa sehingga akan hanya meledak tanpa melukai Anda. Tapi kalau yang nafsunya meledak itu lelaki yang sedang sakit parah jiwanya dan tak tau tempat?

Pemerkosa adalah orang yang sedang sakit jiwanya. Dan kata orang tua, mencegah lebih mudah dan murah dari pada mengobati. Mengobati mereka tetap harus dilakukan karena bisa membahayakan orang lain, berapapun biaya material dan sosial yang dibutuhkan, termasuk kita memberi makan mereka di penjara seumur hidup.

Tapi sambil mengobati, akan lebih cerdas, mudah, dan murah kalau kita semua juga ikut mencegah, salah satunya dengan tidak mengguanakn rok mini di tempat umum. Masih banyak pilihan busana yang lain, yang tetap menarik (tanpa menggoda) dan pantas.

Cara ini pasti lebih murah sebelum ada yang menjadi korban lelaki sakit jiwa. Kecuali, kalau memang rok mini telah menjadi sumber penghasilan pengenanya.

Mbak-mbak, ibu-ibu. Sebagai lelaki, saya selalu mengagumi perempuan. Dalam teori saya, perempuan itu setiap inchi kulitnya adalah fashion. Karena itu, benang dililit-lilit pun ke beberapa bagian tubuh, sudah seperti keindahan yang menyeluruh. Perempuan juga sangat ekspresif. Mereka suka bicara, suka berdandan, suka "menunjukkan" keindahan dirinya. Itu memang kodratnya.

Dan sedikit ini komentar lelaki. Kami-kami ini juga sangat ekspresif. Tapi berbeda caranya dengan perempuan. Kami tidak terlalu suka bicara, suka berdandan, menunjukkan keindahan diri sendiri. Tapi langsung bertindak.

Sebagian yang lain, ekspresinya malah tidak terlihat sama sekali. Tetapi sesuatu di balik celananyalah yang langsung bereaksi.

Maka, seperti Bang Napi bilang, kejahatan terjadi bisa bukan karena niat pelakunya, tetapi ketika ada kesempatan.

Semoga kita semua aman dan selamat. Di manapun berada. Teriring doa untuk istri, ibu, anak, kakak, dan adik2 saya.

Salam,

Lelaki.

Saturday, September 10, 2011

Antara Cinta dan Kentut

CINTA dan KENTUT tidak bisa ditahan, keduanya bisa menjadi lega bila terlaksana.

CINTA tertahan = Sengsara, KENTUT ditahan = Menderita

Kalau CINTA dan KENTUT keras bersuara, tentu perasaan kita lega.

CINTA terkesan malu-malu tapi mau, KENTUT bikin malu-maluin baunya.

CINTA tanpa rasa, bukan CINTA namanya, KENTUT tak berbau, bukan KENTUT namanya.

CINTA itu rapuh, KENTUT itu bau.

CINTA itu halus, KENTUT itu virus.

CINTA diam-diam membuat orang mabuk kepayang, KENTUT diam-diam membuat orang mabuk kepalang.

CINTA bagi kebanyakan orang muda, "Ahhh, CINTA monyet...!"
KENTUT didepan banyak orang, "Sialan, monyet lu...!"

CINTA dan KENTUT sama-sama sering dicari:
Kalau sudah CINTA: "Dimana engkau duhai kekasih?"
Kalo sudah KENTUT: "Siapa nih yang KENTUT? Hayoo, ngaku gak...?!!!"

CINTA berlebih membuat orang terbuai, KENTUT berlebih membuat orang terkulai.

CINTA menyatukan persepsi, KENTUT menyatukan emosi.

Friday, September 09, 2011

Obrolan (Ejaaan Sunda yang belum Disempurnakan) Orang Bandung yang Bikin Kangen

Jika ada yang berkata ”anda seperti kucing” mungkin anda tidak akan marah atau tersinggung, tapi jika ada yang berkata ”anda kayak anjing” sayah kira anda akan sangat marah. Kenapa ketika disebut kucing tidak marah tapi jika disebut anjing merasa tersinggung? Salah apakah sang anjing sehingga namanya sering menjadi sebuah makian dan ungkapan kemarahan seseorang. Apakah karena anjing dianggap sebagai mahluk yang najis, sehingga ketika tubuh kita dijilat anjing harus dicuci sebanyak 7 kali dan salah satunya oleh tanah. Namun di negari barat atau yang kebarat-baratan kata Anjing bukanlah kata yang lazim dipakai untuk memaki.

Dog (anjing) malah menjadi ungkapan yang sering digunakan untuk memaknai
sesuatu yang positip. Misal dog fight untuk istilah duel pesawat terbang, hotdog untuk makanan dari sosis deingan rot, bahkan istilah yang paling terkenal untuk posisi tertentu disebut dog style. Gaya ini cocok untuk orang yang sudah uzur karena cukup dengan mengendus endus kayak dogy hehehe...

Kembali ke topik semula, tetapi kata anjing akhirnya mengalami pergeseran makna khususnya dikalangan anak muda, terutama sekali di kota besar seperti dikalangan anak muda Kota Bandung. Bagi anak muda Kota Bandung yang funky and gaul

kata anjing dan kata goblog hanyalah sebuah tanda kalimat dalam ESD (Ejaaan Sunda yang belum Disempurnakan) Kata anjing hanya berarti sebuah koma (menghubungkan kalimat), sedangkan kata goblog berarti titik mengakhiri sebuah kalimat).

Jadi jangan marah atau merasa tersinggung jika anda berjalan-jalan di Kota Bandung akan sering mendengar kata anjing dan goblog dalam percakapan anak muda.

Biar lebih jelas kita lihat contoh berikut: "Tadi urang dahar anjing ayeuna rek ngaroko heula goblog" kalo kalimat ini diterjemahkan kepada bahasa indonesia yang baik dan benar akan menjadi: "Tadi saya makan, sekarang mau merokok dulu."

Namun demikian bagi yang tingkat TOEFL ESD masih rendah pasti akan sulit untuk mengartikan kalimat berikut ”Anjing aing digegel anjing goblog”.Dalam perkembangannya kata anjing mulai mengalami peluluhan Dalam perkembangannya kata anjing mulai mengalami peluluhan atau penghalusan, kata anjing dirubah menjadi lebih halus dengan kata anjrit, anjis atau anjroy.

Bahkan di daerah Bronk seperti di Rock Watter (Cicadas) penghalus kata anjing cukup ditambahkan kata punten. Jadi jangan heran kalo ada orang yang lewat akan mengatakan permisinya dengan kata halus ”punten anjing” maka cukup dijawab dengan tutur kata yang tidak kalah halus juga ”mangga goblog”.

Dalam sebuah penelitian kecil-kecilan (hanya menghitung beberapa orang saja) pada teman-teman SMA sayah di Bandung. Dalam percakapan sekitar 15 menit, rata-rata kata anjing dan goblog keluar lebih dari 10 kali. Malah sayah sempat melakukan sebuah tantangan pada teman saya, seandainya dia mampu bertahan untuk tidak berkata anjing atau goblog selama 1 jam, saya akan memberinya uang 15 ribu. Teman saya itu hanya bisa bertahan sekitar 30 menit, setelah itu ketika dia ngobrol kata anjing dan goblog meluncur dari mulut tanpa disadarinya. Tah sakitu heula anjing engke lamun aya waktu dituluykeun deui goblog (Artinya : Nih segitu dulu, nanti kalo ada waktu dilanjutkan.) hehehehe.....

Di Jakarta sayah sering di elu-elu (elu lagi elu lagi) dan di Bandung sering di sia-sia kan (sia deui sia deui) namun demikian bagi sayah Bandung adalah tetap Kota terindah di dunia